Posts Subscribe to This BlogComments

Display

Data Penangkar Burung

Informasi dan kemajuan komunitas penangkar burung, mohon informasi ini bisa dimanfaatkan untuk hal yang positif Baca selengkapnya

Featured

Pemahaman tentang Flu Burung

Sejak MENKES mengumumkan adanya peningkatan korban flu burung pada manusia di Indonesia pada bulan Januari 2007 ini menyebabkan sebagian besar masyarakat di Indonesia mengalami kepanikan yang luar biasa dan mereka menjadi takut terhadap satwa unggas.
Kepanikan masyarakat dan pemerintah muncul mungkin disebabkan kurangnnya informasi yang lengkap dan akurat tentang Flu burung. Ditambah lagi dengan adanya berita media masa (Koran dan TV) yang terus menerus memberitakan Flu burung tanpa dasar pengetahuan ilmiah yang kuat sehingga cenderung menambah keresahan masyarakat.

Kami dari PAPBURI (Panguyuban Penggemar Burung Kenari) Solo merasa sangat prihatin dengan kondisi masyarakat yang panik dan ketakutan yang tidak menentu dikarenakan kurang informasi yang benar tentang Flu burung. Sebenarnya masyarakat tidak perlu panik dan ketakutan tarhadap satwa unggas (ayam, itik, merpati, burung puyuh, burung berkicau, dsb). Secara logika seandainya virus A1 H5N1 (yang lebih dikenal dengan sebutan Fluburung) ini dapat menular ke manusia pedagang burung, pekerja kandang ayam, pemotong ayam, penangkar burung, dokter hewan yang selalu kontak dengan unggas dan peran peneliti Virus A1 H5N1 dapat menjadi korban virus tersebut. Faktanya mereka semua masih tetap sehat!
Secara ilmiah kami mendapatkan informasi dari Dr.drh. Edi Boedi Santosa, M.P. lulusan Departemen Penyakit Unggas Fakultas kedokteran Hewan Ludwig Maximilians Universitaet Muencehen Jerman sekarang menjadi dosen Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Gadjah Mada Yogyakarta. Informasi yang kami dapatkan sebagai berikut:
• Penelitian dari Jerman melaporkan bahwa pada dasarnya virus A1 H5N1 yang berasal dari unggas tidak bisa menular ke manusia secara langsung karena adanya perbedaan reseptor/ titik tangkap antara sel unggas dan sel manusia. Permukaan sel pernafasan manusia memiliki / didominasi reseptor sralicacid @ 2,6 yang tidak cocok dengan Haemaglutinin Virus A1 H5N1 sehingga virus A1 H5N1 tidak dapat melekat dan menginfeksi sel manusia. Virus A1 H5N1 memiliki neurominidase (N), yaitu suatu enzim yang berfungsi utuk menembus pemukaan sel unggas, agar materi genetic RNA virus dapat masuk ke sel unggas. Hasil penelitian yang menunjukan bahwa neurominidse (N) virus A1 H5N1 yang berasal dari ayam tidak mempunyai kemampuan menembus sel permukaan manusia, sehingga materi genetic RNA virus tidak dapat masuk ke dalam sel manusia. Informasi tersebut menguatkan bukti dilapangan bahwa pada kenyataannya pedagang ayam, pemotong ayam, pemelihara burung, para peneliti virus A1 H5N1 di Indonesia tidak ada yang menjadi korban virus A1 H5N1.
• Virus mudah mati. Para peneliti melaporkan bahwa Virus A1 H5N1 sangat labil dan mudah mati. Diluar tubuh hewan Virus A1 H5N1 akan mati pada lingkungan yang kering/ terkena sinar matahari, detergent, disinfektan dan alcohol dapat membasmi firus tersebut dalam sekejap. Virus akan mati dengan pemanasan 80’C Selam 1 menit atau pemanasan dengan suhu 70’C selama 3 menit.

Kami juga menyikapi beberapa kejanggalan :
1. Kejanggalan pada manusia semakin nyata ketika para korban virus A1 H5N1 di Indonesia tidak pernah kontak langsung dengan unggas. Dari mana asal virus A1 yang menginfeksi para penderita/korban ? Kenapa bukan pembersih kandang ayam, pemelihara burung yang bahkan setiap hari tidur serumah dengan burung, juga para dokter hewan dan pekerja lab. Yang setiap hari bergumul dengan virus ?
2. Kejanggalan diagnosa positif flu burung, diagnosa positif terinfeksi virus A1 H5N1 pada para penderita di Indonesia pada mulanya didasarkan atas hasil pemeriksaan yang dikerjakan oleh peneliti di WHO, akan tetapi saat ini telah dilakukan sendiri DEPKES. Apakah pengumuman dari pemerintah dan hasil penelitian dari WHO di Hongkong dapat dipercaya ? Betulkah para korban meninggal karena virus A1 H5N1 ? Tidak adakah penyebab lainnya dari kematian mereka ? Mungkinkah justru karena virus SARS atau virus bakteri yang lain ? Untuk menjawab pertanyaan pertanyaan tersebut, sample darah, usap tenggorokan atau paru-paru yang diperiksa dari para korban di Indonesia seharusnya tidak hanya diperiksa dilaboratorium DEPKES atau WHO di Hongkong saja, tetapi juga diperiksa ke laboratorium lai di Indonesia atau negara lain sebagai pembanding (second opinion). Dalam ilmu kedokteraan biasa dilakukan bahwa untuk meneguhkan satu penyebab penyakit yang berbahaya bagi masyarakat perlu dilakukan pemeriksaan di 2 atau 3 laboratorium yang berbeda. Satu sample yang berasal dari satu indifidu perlu dikirim untuk diperiksa dengan metode yang sama di 2 atau 3 laboratorium yang berbeda. Jika hasil pemeriksaan dari ke-3 laboratorium tersebut berbeda, maka pemeriksaan sample tersebut perlu diulang dan jika hasilnya sama maka diagnosa penyebab penyakit tersebut dapat diteguhkan. Dalam kasus kematian korban Flu burung di Indonesia, masyarakat belum tahu apakah prosedur yang demikian telah dilakukan oleh pemerintah. Adalah hal yang wajar bila kematian para korban yang diduga karena Virus A1 H5N1 di Indonesia masih terus menimbulkan pertanyaan bagi keluarga korban, masyarakat, akademisi ataupun para peneliti atau bahkan oleh pemerintah Indonesia sendiri.
3. Kejanggalan obat Flu Burung dan Kebijakan pemerintah yang janggal diantaranya pembelian obat Tami Flu, Vaksin, bahan-bahan kimia dan alat untuk diagnostik kesehatan. Isu flu burung telah menjadi isu Global dan telah jelas memberikan keuntungan sangat besar bagi negara yang memiliki industri farmasi berskala Internasional. Industri pertama yang menikmati manisnya isu global Flu Burung adalah produsen Tami Flu. Obat ini mengandung zat aktif Oseltamivir suatu senyawa anti neurominidase. Senyawa ini mampu menghambat enzim nurominidase virus sehingga akan mencegah masuknya materi genetic RNA virus ke sel manusia. Obat ini hanya efektif pada saat infeksi awal virus ketika individu belum menunjukan gejala-gejala klinis. Didalam tubuh setelah delapan jam virus ini telah mereplifikasi (memperbanyak) pemberian obat ini menjadi tidak efektif bila dalam 3 hari pasien baru merasakan gejala klinis/berobat ke Dokter.

oleh : Laropstars

Related Post



0 komentar:

Posting Komentar

You Welcome ..!

Tingkatkan kualitas burung gacoan anda dengan kompetisi yang fair & nyamanLA Area

Wahana Kicau Mania LA Bertempat di Pemandian Air Hangat Langenharjo, Grogol, Sukoharjo sebagai tempat menguji kemampuan Burung Kicauan dan ajang silahturahmi semua penggemar Kicau Mania.. Baca selengkapnya

Recent Comment

.

Recent Post

.

Hotspot

 

Atribute

Music Therapy Kicauan . Google PageRank Checker .

Pengikut